Imam Ibnu al-Jazari: Ulama Besar Penjaga Warisan Qira’at ‘Asyrah

Nama lengkap beliau adalah Shamsuddin Abu al-Khair Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Yusuf al-Jazari ad-Dimasyqi asy-Syafi‘i (751–833 H / 1350–1429 M). Lahir di Damaskus (Suriah) dan sejak kecil sudah menunjukkan kecerdasan luar biasa dalam menghafal dan memahami Al-Qur’an.

Kisah kelahirannya sungguh menakjubkan. Waktu itu, orang tuanya belum juga kunjung dikaruniai seorang anak. Akhirnya sang Ayah pergi haji. Selama haji, beliau minum air Zamzam dengan niat semoga Allah mengaruniai seorang putra yang saleh dan berilmu. Kemudian beliau kembali ke Suriah, dan pada bulan Ramadan Ibnu al-Jazari lahir.

Perjalanan Ilmu dan Karya-Karyanya

Ibnu al-Jazari menuntut ilmu kepada banyak guru di Damaskus, Mesir, dan Makkah. Di antara guru-gurunya adalah ِAbu Bakar bin Abdullah Aydaghdi/Ibn al-Jundi, Abdurrahman bin Ahmad bin Ali Ali Abu Muhammad al-Baghdadi, Syekh Abu Muhammad Abdul Wahhab bin As-Sallar, Syekh Ahmad bin Ibrahim Al-Tahhan, Syekh Abu Al-Ma’ali Muhammad bin Ahmad Al-Labban, dan masih banyak lagi.

Selain itu, ia juga sempat belajar di Hijaz dan Persia untuk memperluas sanad qira’atnya. Keilmuannya menjadikan beliau dikenal sebagai “Khatam al-Qurra’ wa al-Muqri’in”, penutup para imam qira’at.

Karya-karya besarnya antara lain:

  • An-Nasyr fi al-Qira’at al-‘Asyr: ensiklopedia qira’at sepuluh yang menjadi standar ilmu qira’at modern.
  • Tayyibat an-Nasyr fi al-Qira’at al-‘Asyr: versi nazham (puisi ilmiah) dari kitab An-Nasyr, berisi 1.017 bait.
  • Al-Muqaddimah al-Jazariyyah: matan legendaris dalam ilmu tajwid dan masih diajarkan di pesantren hingga kini.
  • Ghayat an-Nihayah fi Thabaqat al-Qurra’: kitab biografi besar berisi ribuan profil ahli qira’at dari masa sahabat hingga abad ke-8 H.

Kitab-kitab tersebut tentu saja menunjukkan betapa luasnya penguasaan Ibnu al-Jazari terhadap sanad qira’at dan disiplin keilmuan Al-Qur’an.

Akhlak dan Keteladanan

 

Selain dikenal sebagai imam besar ilmu qira’at, Ibnu al-Jazari juga dikenal zuhud, tekun beribadah, dan rendah hati. Imam al-Jazari juga tentu saja bukan hanya seorang ahli Tajwid dan Qira’at, tetapi juga seorang ahli dalam berbagai ilmu, termasuk Tafsir, Hadits, fikih, prinsip-prinsip fiqih, Tauhid, retorika, dan bahasa.

Kesungguhan dan kecintaannya terhadap ilmu perlu kita teladani dan ikuti. Bahwa semasa hidupnya, ia sangat semangat dalam belajar dan menyebarkan ilmu. Bahkan, ia pernah melakukan perjalanan untuk menyebarkan ilmu yang dimilikinya sampai ke Antiokhia, kemudian ke Bursa di Turki.

Bukan hanya itu, yakni pada masa pemberontakan Timuriyah meletus di wilayah Romawi juga ia melakukan perjalanan ke Shiraz, Iran, dan banyak orang belajar darinya. Tentu saja, ia mengajar ribuan murid di berbagai negeri dan selalu menekankan pentingnya adab dalam sanad bacaan, bahwa suara yang indah tak bermakna tanpa ketulusan dan keikhlasan hati.

Warisan dan Pengaruh

Sampai saat ini, setiap santri yang mempelajari tajwid melalui Matan Jazariyyah secara tidak langsung telah mewarisi ilmu dari beliau. Bahwa Ibnu al-Jazari berhasil menyatukan berbagai sanad bacaan Al-Qur’an ke dalam sistem ilmiah yang teruji dan mutawatir.

Karena itulah, para ulama menyebutnya sebagai “Penjaga terakhir sanad qira’at mutawatirah” dalam tradisi keilmuan Islam.

Referensi Web:

Referensi Jurnal:

  • Fathurrozi, “Analisis Qira’at Shahihah Perspektif Ibn al-Jazari.” Jurnal Studi Qira’at, Institut Agama Islam Al Khoziny. Link Artikel: klik di sini .

Referensi Berbahasa Arab:

  • Saduran Kitab: Syaikh al-Qurra al-Imam ibn al-Jazari. Dar Fikr. Link Kitab klik di sini
  • Jurnal ilmiah: Ma‘ālim at-Taujīh ‘inda al-Imām Ibn al-Jazarī. Link Jurnal klik di sini

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *